Rabu, 02 Januari 2008

Pohon

Aku berdiri tegak di persimpangan jalan, sepanjang hari asyik menonton anak-anak jalanan beraksi di lampu merah. Mereka yang mencintai saat-saat lampu merah menyala itu adalah makhluk-makhluk tegar sepertiku, tak goyah diterpa hujan, tak lapuk disengat matahari. Namun adakalanya mereka sampai pada nasib naas, ketika pengendara bermata tapi tak melihat, melesat melawan hukum, dan menyambar tubuh kecil salahsatu dari mereka. Ingin rasanya aku berlari dan mengangkat mereka tinggi-tinggi hingga tak tergapai oleh marabahaya.

Aku berdiri tegak di persimpangan jalan, memendam kemarahan pada pada pelaku tabrak lari yang beraksi di tengah malam yang sepi. Tidakkah mereka menyadari adanya Dia yang selalu ada dimana-mana ?

Aku berdiri tegak di persimpangan jalan, menertawakan ketamakan manusia-manusia yang mengira diri mereka kaya. Mereka menghias raga dengan beragam kemewahan, lupa pada Dia Yang Maha Kaya. Menurutku, mereka hanya para pengemis gengsi dunia saja, yang tak tahu apa yang seharusnya mereka beli demi kekayaan abadi.

Aku berdiri tegak di persimpangan jalan, menjadi saksi kebejatan moral para pedagang kehormatan. Mereka yang menjual kefanaan raga demi api neraka, mereka yang membeli neraka dengan kepuasan semalam, mereka yang menganggap manusia adalah barang dagangan, tidakkah mereka menginginkan surga yang sesungguhnya ?

Aku berdiri tegak di persimpangan jalan, memaki dalam diam saat kulihat makhluk-makhluk tanpa nurani menghancurkan mata pencaharian para pedagang di tepi jalan. Bagaimana kabar mereka setelah diusir ? apakah mereka akan kembali kemari, mengais rezeki ? Kuharap mereka tak kembali, agar tak lagi mengotori tanahku dengan sampah.

Aku berdiri tegak di persimpangan jalan, menghirup udara beracun sambil menangis. Racun yang menghancurkan sel-sel tubuhku itu merasuk dalam tiap miligram zat yang kuserap dari udara, tanah, dan air. Masih adakah yang dinamakan kesehatan di dunia ini ?

Buat apa mereka menyiksaku, memaksaku berdiri sepanjang hari di persimpangan jalan ? Apakah hanya untuk pajangan belaka, layaknya hiasan penyejuk mata ? Buat apa mereka menanamku disini, jika hanya untuk menyakitiku ? Percuma aku ada di dunia ini, karena aku tak bisa mengatakan pada mereka, seberapa besar kehancuran yang mereka buat atas diri mereka sendiri.

Jikalaupun hidup hanya seperti mimpi yang sekejap lalu pergi, tetap saja tak seorangpun berhak merusak hidup anak keturunan mereka demi kenikmatan diri sendiri. Bukankah lebih baik bermimpi buruk sekejap, lalu menyesap kenikmatan saat terbangun ? Ataukah lebih baik bermimpi senang sebentar, lalu terbangun dalam kesengsaraan ?

13 Agustus 2007

Tidak ada komentar: